Senin, 06 Mei 2013

Dear God


Tuhan....
aku minta Engkau mengambil dan menjaga hatiku.
Tolong pegang kunci hati ku sampai hari dimana aku memberikannya pada laki-laki yg Engkau persiapkan bagiku :*

Minggu, 27 Januari 2013

Humbleness

Humbleness. Dalam Bahasa Indonesia, artinya "kerendahan hati". Sebuah tema yang diusung pada Ibadah Perayaan Natal Civitas Universitas Negeri Jakarta pada 12 Januari 2013 lalu. Aku, antusias mendengar tema "From Glory to Glory Trough Humbleness" ini dengan teladan "kerendahan hati" Tuhan Yesus yang lahir di kandang domba.

See? dan tiba saat perayaan Natal pun, firman yang boleh disampaikan benar-benar menguatkanku. Sebuah teladan yang terlebih dahulu Tuhan lakukan, menegurku..bagaimana dengan aku? Apakah aku mau rendah hati meninggalkan segala keinginan dan ambisiku untuk mengikuti rancangan Tuhan? Apakah aku mau rendah hati menyerahkan seluruh masa depan dan rencanaku kepada Tuhan? Atau..aku masih sering mengandalkan kekuatanku sendiri? Apakah aku mau rendah hati untuk diajar oleh Tuhan melalui firman-Nya? Atau..aku malah menutup hati dan telinga untuk menerima didikan-Nya?

Aku. Sudah meletakkan masa depan dan rencanaku dalam tangan-Nya. Terutama..ketika aku harus memutuskan pilihan pada jurusan perkuliahan ini. Ya. Aku sungguh meyakini, ini adalah jalan yang Tuhan inginkan. Aku bersyukur, aku bisa sedikit demi sedikit belajar untuk rendah hati.

Hingga akhirnya, hari demi hari aku lalui dengan setiap pembentukan Tuhan. Berusaha untuk terus mengucap syukur, mengontrol emosi dan bersikap tenang. Aku berusaha untuk terus rendah hati, ketika dunia menawarkan aku banyak puji-pujian.

"Bukan keindahan dunia, bukan hormat manusia. Tapi..satu yang utama, hidup bagi-Mu"
Sepetik lagu ini yang mengingatkan aku pada "kerendah hati"an Tuhan Yesus. Aku banyak belajar untuk terus rendah hati lagi dan lebih lagi, mengasihi mereka yang membenciku, mengasihi mereka yang mencaci maki aku.

Harus bersikap rendah hati, ketika menjadi seorang panutan, menjadi sosok figur yang di contoh, menjadi seseorang yang dilihat oleh dunia...
Harus bersikap rendah hati, menyangkal diri (lagi dan lebih lagi), ketika dunia menawarkan kenikmatan dan zna nyaman...
Harus bersikap rendah hati, menerima kesusahan dengan sukacita sebagai ajaran yang membangun...
Harus bersikap rendah hati,....

lagi dan lebih lagi :))








Tertanda tangan, anak-Mu..
Novi Damai Tambunan :*

Rabu, 23 Januari 2013

Mungkin. Bisa jadi.

Kalau....segala sesuatunya terlalu mudah untuk diraih, MUNGKIN. BISA JADI aku tidak akan mengerti apa arti dari sebuah perjuangan.
Kalau.....segala sesuatunya dapat diraih secara instant, MUNGKIN. BISA JADI aku tidak akan mengalami indahnya sebuah proses.
Kalau.....aku tidak mengalami kegagalan, MUNGKIN. BISA JADI, aku tidak akan pernah mencapai keberhasilan saat ini.

Terlalu banyak kata Kalau, kata Mungkin, kata Bisa jadi..



Sabtu, 19 Januari 2013

#AndaikanAku


#AndaikanAku 
05.00 WIB
Membuka mata di pagi hari, merupakan anugerah yang paling luar biasa di dalam hidupku. Bagaimana bisa? Ketika sang Khalik masing memperkenankan aku untuk membuka mata ku di pagi hari yang cerah dan melihat segala sesuatunya baik, Ia senantiasa memelihara aku dengan menghembuskan aku nafas kehidupan. Ya. Pagi hariku, selalu aku buka dengan ucapkan syukur kepada Yang Mahakuasa.

Segudang aktivitas yang akan ku lakukan hari ini, mungkin lebih tepatnya serangkaian kegiatan “ber-ambisi” yang selalu ada di dalam benak ku saat itu. Sebagai seorang siswa SMA yang baru saja lulus (saat itu) tentu saja aku tidak bisa tinggal diam memikirkan masa depanku. Aku tidak bisa hanya berdiam diri atau bahkan bersikap apatis terhadap masa depanku. Ya. Pikiranku sudah membumbung tinggi, jauh melayang ke ambang batas jauh sebelum aku lulus SMA (saat itu). Sejak duduk di bangku kelas 10, aku bahkan sudah menargetkan tujuanku, impianku, cita-citaku. Bukan hal mudah bagiku, untuk menjalani masa-masa SMA seperti kebanyakan remaja lainnya yang melewatinya dengan santai. Aku memang masih bisa tertawa (saat itu) namun, tetap saja...aku tak dapat membiarkan diriku terhanyut oleh kenyamanan situasi dan kondisi atau bahkan terlena oleh arus jaman pergaulan. Aku harus terus berjuang sendirian, berdiri tegak menantang arus jaman dengan segala prinsip-prinsip hidup dan keyakinanku. Dan....aku percaya “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Selalu ada kata amin, setiap aku mengingat pepatah itu.
Impianku, tak luput dari dukungan dari orang-orang di sekitarku. Terutama Ayah. Sosok pria yang “hampir sempurna” di mata ku, yang sungguh aku hormati dan acungi jempol adalah “orang pertama yang mengajarkan aku arti sebuah PERJUANGAN!” :’( Perjuangan nya di era Reformasi selalu membuatku merasa bersyukur bisa hidup di jaman yang *sekilas* terlihat lebih baik. Kami memang berbeda generasi, berbeda pengalaman pula, namun aku yakin...perjuangan Ayah ku dulu, sama seperti perjuanganku saat ini. Ayahku adalah sosok yang sangat demokratis dan adil (menurutku). Ayah selalu mempercayakan setiap keputusan yang aku ambil dengan membimbing aku serta membukakan jalan pemikiranku. Dan...itu lah awal dimana, aku memikirkan dengan sangat matang bagaimana masa depanku dan apa yang ingin aku lakukan jika aku lulus SMA (saat itu).

“Im not lucky, but Im blessed” Ya, aku memang merasa sungguh diberkati dengan lahir di tengah-tengah kondisi keluarga seperti ini. Aku masih diberi kesempatan untuk meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi, melihat kondisi sekitarku..tidak semua yang orangtuanya mampu :’( Bahkan, orangtua ku bilang, mereka akan melakukan apa saja untuk ku agar aku dapat meraih cita-citaku. Aku diberi kesempatan untuk memperlengkapi diriku menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) *saat itu*. Ya. Tujuanku memang kampus negeri. Kampus negeri yang menjadi kebanggaan di negaraku Indonesia. Rasanya...membayangkan aku menjadi salah satu bagian dari generasi muda Indonesia, sebagai kaum intelektual “mahasiswa” dengan menggunakan jaket almamater kampus kebanggaan adalah “salah satu dari impianku”.

Terkadang, aku tidak mengerti. Mengapa aku harus memilih jalan seperti ini? Mengapa aku harus memiliki keinginan, hasrat dan impian ini? Entahlah. Aku hanya bisa menduga-duga, semangat perjuangan Ayahku di jamannya yang mungkin tertular padaku. Ayahku lulusan Sarjana Hukum, dan sejak aku SD kelas 1 aku selalu tertarik untuk membuka-buka buku kuliah Ayah. Satu hal yang selalu aku ingat, Ayah bilang beliau adalah bagian dari Reformasi di Indonesia. Ya. Sejumlah “Mahasiswa” yang menjadi bagian dari sejarah runtuhnya rezim Soeharto, Presiden Republik Indonesia saat itu. Aku sempat berpikir, aku ingin menjadi seperti Ayah menjadi seorang Sarjana Hukum. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Seiring pertumbuhanku dan rasa keingintahuanku yang semakin besar terhadap dunia perkuliahan, aku mencari-cari informasi melalui internet dan membandingkan juga dalam kenyataan yang ada. Menjelang Ujian Akhir Nasioanl (UAN) guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah ku mulai mempertanyakan setiap keinginan siswa-siswi nya, terutama dalam menentukan jurusan dalam perkuliahan. Saat itu, aku bergumul dalam doaku yang selalu aku panjatkan pada Tuhan. Selama duduk di bangku SMA, aku selalu tertarik pada pelajaran Sosiologi, Bahasa dan Geografi, namun kedua mata pelajaran ini tidak sebanding dengan kecintaanku pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Aku memiliki kecintaan terhadap alam, mungkin ini yang menjadi alasan yang cukup mendasar ketika aku berpikir untuk mengambil jurusan Geologi/Geografi, namun sayangnya...Tuhan membukakan mata hatiku untuk lebih peka terhadap jalan yang ingin Tuhan tunjukkan. Ya. Kecintaan terhadap alam, hanya sekedar hobi bagiku dan aku merasa Tuhan tidak menghendaki aku untuk mengambil jurusan itu.

            Lalu, hasil dari psikotest menyatakan bahwa aku memiliki kemampuan berbahasa yang cukup tinggi. Banyak orang di sekitarku yang menyarankan aku untuk masuk jurusan Sastra, entah itu Sastra Inggris atau Sastra Indonesia. Bila dingat-ingat, ya aku memang selalu juara di kelas dalam mata pelajaran Indonesia, seringkali pula juara dalam lomba menulis/mengarang, kemampuanku dalam merangkai kata-kata dalam bait puisi dan sajak sempat membawa aku kepada pemikiran untuk membuat novel saat duduk di bangku SMP. Akhirnya..aku memutuskan untuk mengambil jurusan Sastra Inggris sebagai salah satu jurusan yang akan aku pilih pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) nanti.

Passion terkuat, lahir ketika aku duduk di bangku kelas II SMA pada saat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan pembahasan Hubungan Internasional. Guru Pendidikan Kewarganegaraanku memaparkan mengenai jurusan ini kepadaku. Bila diingat lagi ke belakang, ya..aku memang selalu merasa memiliki “beban” terhadap bangsa Indonesia ini sebagai seorang anak muda. Dari bangku SMP, aku memang selalu aktif dalam diskusi, terutama dalam debat dan pembahasan Negara dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan maupun Sosiologi. Aku juga selalu mengikuti perkembangan Politik dan Hukum serta mendiskusikannya dengan Ayah. Menarik memang. Aku selalu menceritakan keinginanku kepada Ayah, seperti ketika kasus Pulau Sipadan dan Ligitan yang direbut oleh Negara Malaysia saat itu, aku selalu banyak bertanya kepada Ayah, mengapa Negara Indonesia seperti membiarkan ini terjadi? Rasa penasaranku semakin kuat mendengar setiap pertanyaan Ayah, aku selalu menanyakan kondisi Politik dan Hukum kepada Guru Pendidikan Kewarganegaraanku di SMP maupun SMA. Jujur. Aku selalu sedih melihat berita-berita semacam ini di televisi, aku selalu menginginkan adanya “perdamaian” di antara Bangsa-Bangsa di dunia. Mungkin karna namaku Novi “damai” :p Aku selalu risih dengan yang namanya peperangan. Saat itu...aku memikirkan jurusan yang menjadi passion terkuat dalam hidupku, Hubungan Internasional.

Bekerja di kantor Departemen Luar Negeri, atau bahkan menjadi salah satu Duta Besar Indonesia untuk negara lain. Ya That’s it! Ini lah cita-citaku, yang selama ini aku gumulkan.

Namun..pada satu hari sebelum Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) itu tiba, ada seseorang yang menjatuhkan semangatku, bahkan hampir-hampir hancur lebur. Orang ini beranggapan sepele melihat kartu ujian ku dengan nomor dan dua pilihan jurusan yang tertera di dalamnya, Hubungan Internasional (Universitas Jendral Soedirman) dan Sastra Inggris (Universitas Negeri Jakarta). Orang ini hampir membunuh karakterku bahkan membunuh impianku. Aku hanya berusaha untuk tetap tidak goyah, dan yakin pada pendirianku. Ck! Apa ini teguran dari Tuhan? Apa pilihanku ini belum sesuai dengan keinginan Tuhan? Apa aku terlalu egois dengan ambisi-ambisi ku ini? Aku menangis sekencang-kencangnya di kamarku malam itu.

Ujian pun tiba. 
Aku deg-deg-an. 
Hal yang lebih menegangkan lagi, saat pengumuman SNMPTN. 
Dan..
Aku mendapati diriku, tersontak dengan air mata yang mengalir di pipiku. 
Aku tak mampu berkata-kata.

Beberapa teman mencoba menghiburku, dan aku pun bangkit lagi dengan mengikuti ujian-ujian berikutnya dari Ujian Masuk Bersama (UMB) dengan harapan aku masuk salah satu Universitas Negeri hingga Ujian-ujian mandiri di masing-masing kampus. Ujian terakhir yang aku ikuti, Ujian Mandiri Universitas Jendral Soedirman dengan tetap kukuh pada pilihanku Hubungan Internasional dan Sastra Inggris, dan yang kedua Penerimaan Mahasiswa Baru (Penmaba) Universitas Negeri Jakarta dengan pilihan Pendidikan Kewarganegaraan. Saat itu, aku benar-benar berdoa kepada Tuhan bahwa ini adalah usaha terakhir yang akan ku lakukan tahun ini, jika masih belum berhasil, aku akan mengikuti ujian PTN tahun depan. Aku berpikir, kasian orangtuaku jika mereka harus membayar kuliah di swasta yang mahal, walaupun mereka rela bayar harga untuk itu.

Dan..
Hal yang tidak diduga..
Aku diterima di kedua kampus tersebut :’( dengan jurusan yang aku ingini. 
Universitas Jendral Soedirman dengan Sastra Inggrisnya dan Universitas Negeri Jakarta dengan Pendidikan Kewarganegaraan. 
Kembali...menangis dan tak mampu berkata-kata.

Saat itu, hasratku ingin berada di Universitas Jendral Soedirman namun lagi-lagi Tuhan menegurku melalui orang disekitarku. Berbagai pertimbangan yang akhirnya, aku rela untuk menutup ambisiku dan mengikuti kehendak Tuhan. Aku yakin dan aku percaya, ketika aku rela melepaskan keinginanku dan membiarkan Tuhan menggantikan setiap rencanaku dengan rancangan-Nya yang indah, aku merasa damaiJ

Saat ini aku berpikir, #AndaikanAku lebih peka terhadap suara Tuhan, mungkin aku tak perlu mengeluarkan air mata sebanyak ini, mungkin aku tidak perlu merasa kecewa dengan 5 kali ujian yang aku ikuti dan 5 kali kegagalan :’)

#AndaikanAku lebih memilih ambisi-ku daripada keinginan Tuhan, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan Dosen-Dosen hebat dan luar biasa seperti di Jurusan Ilmu Sosial Politik yang membentuk karakterku.

#AndaikanAku lebih memilih untuk berkuliah disana, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan teman-teman kelompok kecilku (inca, grace, merry, esra) dan PKK ku (kak vunny) serta teman-temanku seiman di dalam Persekutuan Mahasiswa Kristen yang sudah sangat seperti keluarga dan mengajarkanku banyak hal, membimbing aku menuju sebuah kedewasaan rohani dan yang pasti.....jadi seperti yang Tuhan inginkan J

#AndaikanAku....




www.kampusunj.com


Rabu, 16 Januari 2013

Hujan

Lantunan senandung rindu, membawaku mendayu-dayu. Haruskah selalu seperti ini?
Hujan memang selalu mengerti, situasi dan kondisi. Haruskah mengelak dari hal ini?
Derasnya hujan saat ini, dapat ku bayangkan. Ya...Jakarta kebanjiran.
Kilat dan suara gemuruh, menambah suasana teduh ku. Sekali lagi, mendayu-dayu.

Aku selayaknya manusia, berpikir dan berakal. Aku berkhayal.
Aku membumbung tinggi, lepas ke angksa. Hati-hati!
Ah...
Ada pribadi yang selalu menggegam tanganku erat, disana.
Ya...
Disana.

Rintik hujan bukan tentang jumlah rindu(ku) kepada seseorang.
Tapi...
Entahlah!








Jakarta kebanjiran,-
Novi Damai Tambunan

Selasa, 15 Januari 2013

Teruntuk yang selalu berjuang!

Ada melalui sebuah "perjuangan" lalu setelah berada disini, bukan berarti "perjuangan" itu berhenti. Justru disitulah "perjuangan" dimulai.

Hanya saja...hidupmu terlalu nikmat untuk ditinggalkan, terlalu terlena dengan zona nyaman.


Hanya saja...gemerlap dunia terlalu sayang untuk disiakan


dan, masih banyak hanya saja yg menjadi penghalangnya. sejuta alasannya, tapi tak ada niatnya berubah


Siapakah pemilik "perjuangan" itu? KITA! 

ya..
AKU..
KAMU..
KITA SEMUA...

Dan..kau hanya terlalu sibuk dengan dirimu sendiri, dengan duniamu sendiri, menutup mata telinga dan hatimu dari orang sekelilingmu.


Lalu siapa yang bertahta dihatimu ketika kau mulai muka tuk memuja?


SETAN?

IBLIS?

Dan...kau? Hanya terlalu bahagia untuk dipusingkan oleh dusta dunia


Dan...kau? Tak akan pernah mengerti, sebuah arti, tanpa kau sendiri yg menyadari


Akhirnya..


Sampai kapankah kau terprovokatori oleh tangan-tangan kotor, pembual besar, penikmat dusta, hura-hura tanpa kau sendiri yg mengerti "perjuangan" itu?









-novi damai tambunan-